Senin, 30 April 2012

Kerja Keras, Kerja Cerdas, dan Kerja Ikhlas :)


Kerja Keras, Kerja Cerdas, dan Kerja Ikhlas

                                                                                                            Jombang, 25 Agustus 2005
            Diary…,
            Aku tak pernah berharap jadi guru, aku tak pernah membayangkan jika suatu hari nanti akan jadi guru yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa itu. Sekalipun, aku tak pernah mempunyai angan untuk jadi guru. Karena, cita-citaku yang sebenarnya adalah menjadi mahasiswa di UnBra Malang  dengan masuk fakultas pertanian dan jadi Insinyur Pertanian. Tapi mau gimana lagi, aku tak mau dikatakan sebagai anak durhaka. Ibuku menginginkan aku jadi guru dengan ciri fisikku yang tak mendukung untuk dihormati jadi guru, kecil dan pendek. Ketika mau lulus dari kuliah di Surabaya fakultas keguruan, aku memperoleh pesan dari dosen favoritku, yang mampu merubah cara pandangku sebagai guru saat ini….
                                                                                                                           Maura Fairuz Ayu Nina

            Hobi yang dimiliki Nina seperti membaca dan menulis itu membuat Nina saat ini masuk dan menjalani kuliahnya semester empat di Fakultas Keguruan dan Pendidikan yang terasa berat untuk dilaluinya, bahkan sia-sia karena tak tertarik sedikitpun dengan fakultasnya. Meski tidak tertarik dengan Fakultas Keguruan dan Pendidikan, Nina cukup pintar memilih jurusan yang sesuai dengan kegemarannya yakni Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Jadi, urusan saat belajar mengajarnya ia masih bisa mengikuti dengan normal dan santai tentunya.
            Saat menginjak semester keenam, Nina sudah mulai praktik mengajar. Awalnya di depan teman-temannya sendiri. Setelah itu berlanjut praktik di sekolah-sekolah yang telah ditentukan oleh guru pembimbing masing-masing di jenjang SMA. Nina yang tak sedikitpun tertarik jadi guru, praktik mengajar ini merupakan tantangan tersendiri baginya. Pesan dari dosennya selalu ia ingat dengan baik. “Nin, ingat, saat masuk kelas pertama, kesan pertama akan menjadi tolak ukur ke depan sebagai seorang guru, berkesan dan punya kharisma saat di depan siswa..!” Dua minggu dilaluinya dengan enjoy dan disaat itu Nina mulai tertarik menjadi guru. Siswa-siswinya terlihat terkesan dengan penampilan dirinya dan ia berkeyakinan kalau ia mampu menjadi guru yang disukai para siswa.
            Dua tahun berikutnya Nina diwisuda dan mulai mengabdi sebagai Guru Tidak Tetap di tiga sekolah sekaligus. Perjalanan hidup yang menyenangkan menurut Nina pribadi. Di tengah kesibukannya itu, Nina bertemu dengan seorang pria yang sempat membuat hatinya dag dig dug melebihi ketika menanti pengumuman PMBnya dulu di Malang.
            “Kenapa aku memikirkannya teruss… kenapa juga jantungku berdegup kencang saat bersamanyaa ?? Perasaan apa ini ? Masa aku jatuh cinta sama dia ?? Dia sudah ada yang punya belom yaa ?? Shesar….. nama yang indah J” tanya Nina sambil melamunkan sosok yang bernama Shesar Aldo Pratama. “Ahh,.. apa sich yang gue omongin barusan ?? ada-ada sajaa..”sambungnya membuyarkan semua angannya..
            Tiba-tiba ponselnya berdering tanda pesan masuk. Tampak nama si Shesar muncul memenuhi screen ponselnya.
            Selamat siang, Bu Nina… :)
            sedang apa ini, Bu ?? ( ♥͡▽♥͡ )
            Deg..!! Jantung Nina berdegup kencang lagi. Ternyata bersamanya via SMS membuatnya dag dig dug pula. Entah mengapa Nina dengan sigap membalas pesan itu.
            Iya, siang jua, Pak Shesar..
            Ini lagi di kamar saja, Pak.. ada apa yaa ??
            Satu, dua menit kemudian Shesar membalas pesan dari Nina. Balasan ini benar-benar membuat Nina melongo kaget, takut kalau saja ia salah baca pesan itu.
            ndak apa-apa kok, Bu..cuma pengen sms aja. ( >͡ .̮ Ơ̴͡ )*
            kok panggil ‘pak’ sih Bu ?? pdhal mau bilang *sesuatu* nih..
            pengen tau ngga yaa  .. ?? (♥͡з♥͡)  ada yg sukaa lhoo sma Bu Nina
                Sekali lagi Nina membaca pesan itu. Jungkir balik dia di kamar tidurnya. Rupa-rupanya mereka sehati. Baru saja dilamunkan oleh Nina, si Shesarnya sudah mengirim pesan seperti itu. Nina kali ini tak segera membalas pesan itu dikarenakan hobinya yang menulis, ia bermaksud menuliskan peristiwa ini ke buku hariannya. Bahagia sekali rasanya, rasa suka, cinta dan sayangnya tak bertepuk sebelah tangan. Rada GR :D
            Oh, begitu.. trus saya mesti panggil gmana ??
            Kan harus seimbang, kalo pak Shesar panggil saya pake Bu, saya jua hrus panggilnya pke pak..
Bilang apa ya, pak Shesar ?? memangnya siapa yg suka sama saya ?? :o
Nina berpura-pura tak mengerti. Apalagi soal panggilan itu. Nina mencoba menggoda Shesar. Nina melamun lagi. Ia membayangkan kalau saja nanti sampai berpacaran dengan Shesar. Betapa senangnya dia. Dan ia berencana langsung mengenalkan Shesar kepada kedua orang tuanya bermaksud langsung dinikahkan. Lamunan itu pecah seketika saat ponsel Nina berdering kembali. Shesar membalas pesannya lagi.
panggil mas aja deh, kalo Bu Nina kan sudah jadi bu guru..hehe ː̗(^^)ː̖
apa boleh kalo saya panggil Nina saja ?? ( >͡ .̮ Ơ̴͡ )*
mau bilang, kalau….saya mau masuk ke hatinya Bu Nina nih ( ♥͡▽♥͡ )lagii fallin’ in └ºνє
gmana ?? boleh ngga ? diterima ngga yaa….??
Wooowh…Nina benar-benar melayang dibuatnya. Shesar pintar juga merayu orang. Sampai bisa membuat Nina klepek-klepek. Siapapun orangnya yang dikirimi pesan seperti itu pasti langsung jatuh hati.. Ahh, Shesaarrr…….!!! Aku padamuu…(͡ з͡) *~
Baiklah mass..ngga apa-apa kok panggil Nina saja..
Jawabnya nanti saja ya mass, aku mau bersih2 rumah dulu :)
Nina sengaja membuat Shesar mati penasaran, namun dalam hati ia sungguh bahagia dan meski Shesar dibuat penasaran, ia yakin kalau Nina akan menerima cintanya. Semua dapat dilihat dari balasan pesan Nina.
ƪ(‾ε‾)ʃ ƪˇ)ʃ ƪ(‾ε‾“)ʃ ˇ) ƪ(˘ε˘")ʃ‎​
Nina telah resmi bertunangan dengan Shesar. Baru dua bulan berpacaran dan mereka merasa sudah saling cocok, Shesar serta Nina melangsungkan pertunangannya. Hari-harinya dilalui dengan riang meski satu dua rintangan menghalau mereka.
Selain mengabdi sebagai seorang guru, Nina mulai mencoba mengabdikan diri di tempat tinggalnya dengan masuk di organisasi Karang Taruna. Nina yang cekatan dan teliti dalam segala hal, ia terpilih sebagai Ketua Karang Taruna selama lima tahun. Dan ia berhasil meraih prestasi beberapa kali di tempat tinggalnya saat mengikuti lomba atas nama Karang Taruna yang selalu memperoleh Juara I di bidang pertanian dan kepemimpinan.
Belum genap satu tahun menjadi Guru Tidak Tetap, Nina memperoleh informasi bahwa ia diminta untuk mengikuti pertukaran pemuda ke Negara Jepang. Suatu hal yang tak disangka oleh Nina sebelumnya, bahkan tak terbayangkan sedikitpun jika ia akan berangkat ke Negeri Sakura yang terkenal dengan orang-orangnya yang cerdas dan ramah meski terhadap orang yang baru dikenalnya.
Kenapa bisa begitu ?? Tentu saja karena prestasi-prestasi gemilangnya tadi. Sebelum benar-benar bertolak ke Negeri Sakura, Nina mengikuti beberapa seleksi mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, dan provinsi. Lumayan sulit untuk dilewati oleh Nina karena peserta yang diseleksi tak cukup ini itu saja, butuh perjuangan besar untuk menjadi yang terbaik dan bisa terpilih, namun Nina tetap semangat dan berusaha sebaik mungkin.
Akhirnya………., dong..dongg..dongg…..
Nina terpilih juga berangkat ke Jepang sebagai wakil dari Provinsi Jawa Timur bersama 27 orang dari tiap provinsi. Horeeee…! :D Sungguh kebahagian yang berlipat ganda setelah memperoleh sii Shesar sang pujaan hatinya dan terpilih untuk mengikuti pertukaran pemuda ke Jepang untuk menjalani study tingkat lanjut. Hal ini tentu saja dapat mengobati dan mengabulkan cita-cita pertama Nina yang sempat gagal. Nina memberitahu tentang keberhasilannya itu kepada Shesar via SMS.
Shesaaarrr…….aku ada kabar baguss nih (ekspresi ala dek Afika) :D
Lagii seneng bnget aku :)
Shesar yang sedang mengikuti mata pelajaran Bahasa Jepang di kampusnya kaget dengan getaran ponsel yang ada di saku celananya. Dengan hati-hati ia keluarkan ponselnya tersebut, tanda pesan beserta nama Nina saiiang :* tertera di screen ponselnya itu. Segera ia membuka pesan dari Nina. Membacanya sambil tersenyum sendiri dan langsung mengetik balasannya.
kabar apa sayang ? feelingku mengatakan kalo kamu hbs dpet undian ya ??
hehe (_) bener ngga sayang ?
Nina heran dengan balasan dari Shesar, hampir benar tebakan feelingnya. Tanpa pikir panjang, ia membalasnya.
Kok tau sih kalo dpet undian ? tapi lebih tepatnya sih bukan bntuk undian..
Kamu tau kan kalo aku ikut seleksi ke Jepang…dan aku terpilih sayaangg……
Tapi aku harus ninggalin kamu dulu :(
Shesar turut bahagia dengan apa yang diperoleh Nina meski nantinya ia akan ditinggalkan dan terpaksa harus menjalani Long Distance Relationship atau hubungan jarak jauh. Dengan penyakit syndrome malarindu yang mendera satu sama lain.
wah, selamaatt yaa sayang… ntar aku kasih surprise lagi deh buat kamu syang \(≧∇≦)/
ngga apa2 kok kamu tinggal demi cita2 kamu sayangg, apapun itu yg penting kamu bahagia..
yg penting lagii jgn nakal yaa…hehe (^o^)V
Nasib Nina kini sedang di atas, bahagianya dia memiliki Shesar yang tak hanya sayang dan cinta padanya tapi juga pengertian. Sungguh pria idaman wanita… Wuihh…maauu… :D
Iyaa, makasih :) oke dah, kamu lanjutin kuliah kamu dulu gih ..
Aku ngga mau ganggu..

Saat Shesar dalam perjalanan menuju rumah Nina untuk memberi ucapan selamat serta surprise lainnya, dengan kecepatan tinggi tiba-tiba ia menabrak palang pintu kereta beserta kereta apinya yang tengah melintas di depannya. Tragedi ini membuat Shesar sang pujaan hati Nina meninggal dunia di tempat. Tuhan sungguh menyayanginya dan memilih untuk mengambilnya daripada ia harus hidup dengan cacat fisik akibat kecelakaan itu. Ketika tersiar kabar tentang meninggalnya Shesar, Nina shock.. Hampir mengalami depresi berat.
“Nina, ada telepon dari rumah sakit ini…kamu jangan kaget ya, nak…!” kata ibu Nina sambil menyerahkan gagang telepon dengan raut muka tampak sedih. Ibu Nina menceritakan apa yang baru saja didengarkan kepada ayah Nina dengan berbisik.
“Iya, halo.. ini saya Nina. Ada apa, ya ??” ujar Nina merasa aneh.
“Bu Nina, apa ibu mengenal saudara Shesar Aldo Pratama??” tanya seorang suster di seberang sana.
“Iya, dia tunangan saya. Shesarnya kenapa, ya ? kok saya dapat telepon dari rumah sakit gini??” mulai gelisah.
“Pak Shesar mengalami kecelakaan, Bu...”
 “Astaghfirullah, terus bagaimana keadaan dia sekarang ?? Nggak kenapa-napa kan, mbak ??”
“Pak Shesarnyaa……maaf,….beliau sudah meninggal dunia, Bu...”
Heniiingg….Nina melongo, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Tiba-tiba…….,

Brruukk….!!!

“Innalillahii…wa innailaihi roji’un…..Shesaarrr……..” teriak Nina kaget lalu pingsan dan menjatuhkan gagang telepon yang dipegangnya tadi. Ibu Nina segera menolong Nina, mencoba untuk menyadarkan Nina dari pingsannya.
“Halo, ini saya ayahnya Nina.. Kira-kira nak Shesarnya berada di rumah sakit mana ini ?” kata ayah Nina menyambung percakapan telepon yang sempat terputus tadi.
“Iya, pak.. ini di Rumah Sakit Umum Graha Amerta Surabaya, pak ! kami mohon jenazah pak Shesar segera dibawa ke rumah duka sebab jenazahnya sudah kami peti kemaskan..”
“Apa ?? di Surabayaa ?? Jauh sekali.. baiklah,  Bu ! saya akan mengabari keluarganya.. terima kasih, Bu.. Assalamu’alaikum..”
“Iya, bapak.. terima kasih kembali. Walaikum salam….” kata suster itu mengakiri percakapannya.
Ayah Nina segera menelepon keluarga Shesar dan memberitahu apa yang terjadi. Ayah Nina juga menanyakan tentang Shesar yang bisa sampai Surabaya. Ternyata Shesar hendak belanja sesuatu untuk Nina yang mungkin akan digunakan saat di Jepang nanti. So sweet….
Shesar telah pergi, bersama cinta dan kasih sayang Nina. Tak ada yang bisa menggantikannya di hati Nina paling dalam. Hanya cinta kepada kedua orang tuanya dan pekerjaan sajalah yang bisa membuat Nina mengikhlaskan semuanya. Setelah sadar dari pingsannya, Nina beserta kedua orang tuanya pergi menuju rumah sakit yang ada di Surabaya. Nina tak sanggup lagi menahan tangisnya.. Air matanya tumpah ruah mengaliri pipinya. Ibu Nina mencoba menenangkan Nina sambil berkata, “Sudah, nakk… yang sabarr yaaa… Shesar sudah tenang di alamnya sana.. Tabahkan hatimu, nak…ibu bisa merasakan apa yang kamu rasain..” ucap ibu Nina iba melihat keadaan anaknya. Sementara Nina hanya bisa menangisi kepergian Shesar yang amat sangat disayanginya itu. Tiba-tiba lagii…
“Harusnya Nina saja yang mati….!! bukan Shesarr……, Nina ngga perlu pergi ke Jepang segalaaa…..!!! Aku sayang Shesaarr, Bu…. Nina nggak mau Shesar ninggalin Ninaa…” teriak Nina sambil meronta-ronta di pelukan ibunya.
“Huuushh, kamu jangan ngomong seperti itu, Nin.. ini sudah kehendak Allah SWT. Sudah takdirnya nak Shesar memiliki usia segitu.. kamu sabar sajaa… jangan kamu tangisi seperti ini, kasihan Shesar di alamnya sana, jadi tidak tenang dia…sudah, hapus air mata kamu itu, nak…” ibu Nina khawatir dengan tingkah Nina saat itu.
“Sheeesaaaarrr……jangan tinggalin Ninaaa……..” teriaknya kian keras. Menggeliat ia seperti orang kerasukan saja. Saat tiba di rumah sakit, tampak keluarga besar Shesar berkerumun mengelilingi jenazah Shesar dalam peti. Nina turut menghambur diantara kerumunan itu. Suasana duka terasa sekali saat itu.
“Shesarr, maafin Ninaa… kamu nggak seharusnya memberiku surprise yang bikin kamu jadi seperti ini…” ucap Nina pada jenazah Shesar yang sudah putih memucat. Mama Shesar memeluk Nina erat-erat mencoba menenangkan Nina yang masih terlihat shock. Anggota keluarga yang lain mengangkat peti jenazah Shesar untuk dimasukan ke dalam mobil ambulance dan segera menuju rumah duka.

 Esok harinya, Nina segera bertolak ke Negeri Sakura bersama kesedihan yang masih menggelayuti hatinya. (o・_)”(_)

ƪ(‾ε‾)ʃ ƪˇ)ʃ ƪ(‾ε‾“)ʃ ˇ) ƪ(˘ε˘")ʃ‎​
Selama di Jepang, ia belajar tentang Manajemen, Pendidikan, Kebudayaan, dan Pertanian.. Luar biasa pikir Nina. Selama sebelas bulan ia di Jepang menyelesaikan kegiatan belajarnya, ia kembali ke Indonesia dan menerapkan semua ilmu yang didapatnya saat di Jepang. Berbagai undangan ia terima dan membuatnya harus keliling Indonesia, singgah dari satu kota ke kota lainnya. Seperti artis sajaa (˛).
Pengalaman yang menakjubkan bagi Nina, mampu menghapus segala rasa sedih yang mendalam sebelum ia berangkat ke Jepang sebelas bulan yang lalu. Profesinya sebagai guru dikesampingkan terlebih dahulu. Baru  pada awal tahun 2006, Nina mulai terjun kembali ke dunia mengajar dan masih menjadi Guru Tidak Tetap. Nina juga mulai aktif kembali di Karang Taruna, bahkan ia juga menjadi penyiar radio Komunitas dan menjadi penyiar idola pula. Pengabdian Nina selama ini mendapat hadiah dari Bupati Jombang dengan mengangkatnya sebagai Pegawai Negeri Sipil di tahun 2008.
Pesan dari dosennya dulu masih diterapkan sampai sekarang dan membuat Bu Guru Nina beberapa kali terpilih menjadi guru favorit di tempatnya mengajar. Setelah menjadi PNS dan mempunyai tabungan yang cukup, Nina berencana untuk membangun sebuah taman baca yang di dalamnya terdapat visi misi sosial, yakni MEMBUDAYAKAN GEMAR MEMBACA BAGI SIAPAPUN. Wakil Bupati Jombang pun ikut berpartisipasi dengan menyumbangkan dana pembangunan.
Pada tahun 2009, taman baca milik Nina sudah bisa digunakan untuk siapapun. Bonus dari pembangunan taman baca tersebut Nina mengikuti lomba karya tulis yang berkaitan dengan taman baca. Berkat usahanya, Nina meraih Juara I tingkat Kabupaten, Juara I lagi di tingkat Provinsi dan Juara IV di tingkat Nasional. Benar-benar prestasi yang luar biasa. Selain usaha Nina yang dipersiapkan dengan matang, do’a sang ibu ternyata mengiringi setiap langkah, usaha, dan pekerjaan Nina saat ini.
Karir Nina sebagai seorang guru kian meningkat dan berjalan dengan baik. Nina mengerjakan semuanya tak harus ‘ngotot’ untuk jadi begini dan begitu. Semuanya dilaksanakan dengan ikhlas. Kini ia mempunyai semboyan untuk semangat hidupnya yaitu Kerja Keras, Kerja Cerdas, dan Kerja Ikhlas. Sebenarnya, Nina memiliki semboyan yang lain seperti Muda Berkarya, Tua Kaya Raya, Mati Masuk Surga. Dengan semua kerja kerasnya yang selalu berbuah manis, ia merasa bisa membahagiakan orang tuanya, terutama ibunya yang telah membuatnya menjadi ibu guru favorit dan segala macam do’a yang telah dipanjatkan demi lancar dan suksesnya kiprah Nina sebgai seorang Ibu Guru Maura Fairuz Ayu Nina. Dua sosok wanita yang patut dijadikan contoh serta diacungi empat jempol untuk semua tindakan yang telah dilaksanakannya demi orang-orang di sekitarnya dan yang disayanginya.


TAMAT AND THE END :D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar